Sekelompok pengendara moge (motor gede) telah diadukan oleh seorang bapak (Edwin) yang merasa diteror oleh ulah kawanan konvoi moge tersebut yang menggebrak dan mengepung mobilnya yang tersendat dalam kemacetan arus lalulintas di Puncak pada Minggu sore kemaren. Edwin yang melaporkan kejadian ini kepada polsek Cisarua mengaku bahwa dirinya juga telah dipukul, sehingga isterinya yang sedang hamil dan ketiga orang anaknya serta mertuanya mengalami trauma akibat dari kejadian tersebut. Demikian ramai diberitakan oleh media cetak, elektronik dan situs-situs dunia maya hari ini.
Sungguh tragis dan memilukan bila berita ini benar adanya. Kebringasan sekelompok orang yang merasa kepentingannya terganggu, lalu melakukan tindakan kasar demi mempertahankan kepentingannya itu menunjukkan betapa rawannya kekuatan massa yang terhimpun dalam kelompok yang tidak terkendali.
Sudah menjadi rahasia umum (artinya sudah bukan rahasia lagi) bahwa kelompok moge itu umumnya terdiri dari orang-orang dari kalangan berduit, yang mampu membayar puluhan bahkan sampai ratusan juta untuk sebuah hobi yang mahal. Umum juga tahu bahwa banyak pejabat dan bekas pejabat, orang-orang penting sampai kaum selebritas berhimpun dalam klub-klub motor besar, sehingga kesan sebagai kelompok elit-nya sulit untuk dipungkiri.
Tidak ada yang salah dalam hal ini, tidak ada hukum yang melarang orang berduit untuk menyalurkan hobi mereka, terlepas apakah hobi itu mahal atau tidak. Bahkan ada kelompok moge yang perlu diappresiasi, karena sambil melakukan tur-tur ke pelbagai pelosok negeri, mereka tidak lupa melakukan baksos (bakti sosial) dengan menyumbang disana-sini.
Yang perlu kita prihatinkan adalah bila kelompok tersebut, dalam menyalurkan hobi mereka lalu menganggap merekalah yang harus di nomor-satu kan, harus mendapat prioritas lebih dari pemakai jalan lainnya. Seolah-olah merekalah satu-satu-nya pemilik jalan, sehingga bila ada orang lain yang mereka anggap merintangi, dengan gampangnya mereka hakimi. Apapun alasannya main hakim sendiri dengan merusak kendaraan orang lain apalagi disertai pemukulan jelas tidak bisa dibenarkan. Ulah yang demikian ini hanya akan menambah pandangan miring orang banyak terhadap kelompok elitis ini.
Kalau benar apa yang terjadi dengan keluarga bapak Edwin itu, adalah contoh arogansi kelompok moge yang salah kaprah, yang seharusnya dihindari. Apakah polsek Cisarua akan bisa menegakkan keadilan disini dan menghukum yang salah, kita tunggu perkembangan selanjutnya.
Salam,
Sammy.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar